Studio kami berada di desa yang dikenal dengan tradisi ukir kayunya. Namun keahlian memahat tersebar di seluruh Nusantara, masing-masing dengan gaya, alat, dan makna yang khas. Mengenal tradisi-tradisi ini memperkaya pemahaman tentang seni patung Indonesia.
IBali: batu dan kayu
Bali dikenal dengan ukiran batu paras yang menghiasi pura dan rumah, serta patung kayu dari desa-desa sentra ukir. Gaya ukir Bali sering menampilkan tokoh pewayangan, dewa, dan motif flora yang rumit.
Banyak pemahat belajar sejak kecil dari keluarga dan lingkungan sekitar.
IIToraja: ukiran dengan makna
Rumah adat Toraja dihiasi ukiran berwarna dengan motif geometris dan simbolis yang masing-masing memiliki makna. Patung kayu tau-tau juga menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat Toraja.
Warna yang dipakai secara tradisional berasal dari bahan alam.
IIIAsmat: ekspresi leluhur
Patung dan ukiran Asmat di Papua dikenal ekspresif dan kuat, seperti tiang leluhur dan perisai. Ukiran ini memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam bagi masyarakat Asmat.
Karya Asmat dikoleksi museum di berbagai negara.
IVMenjaga regenerasi
Tantangan terbesar adalah regenerasi pemahat muda dan ketersediaan bahan baku yang legal dan berkelanjutan. Sanggar, sekolah seni, dan pasar yang menghargai karya tangan membantu menjaga tradisi ini.
Membeli karya langsung dari pemahat dan menghormati makna budayanya adalah bentuk dukungan nyata.